Enam Mitos yang Salah tentang Kuliah di Luar Negeri

The launch of UTS:INSEARCH Pathway Program at UIC College Jakarta
September 11, 2015
Uniprep & UIC College Melepas 60 Pelajar untuk memasuki Universitas Terbaik Dunia
September 16, 2015
Show all

Enam Mitos yang Salah tentang Kuliah di Luar Negeri

Melanjutkan kuliah di luar negeri dengan fasilitas pendidikan kelas dunia, kurikulum berstandar internasional, dan jaringan pergaulan sangat luas adalah impian ribuan pelajar di Indonesia. Tak heran, jumlah pelajar Indonesia yang melanjutkan kuliah di luar negeri terus meningkat setiap tahun. Menurut organisasi Ikatan Konsultan Pendidikan Internasional Indonesia, terdapat 50.000 pelajar Indonesia yang belajar ke luar negeri pada tahun 2012 dengan tren pertumbuhan sekitar 20% setiap tahun. Pada tahun 2013, jumlah pelajar Indonesia di Australia sekitar 13.000 orang.

“Berbeda dengan belasan tahun lalu, saat ini Pelajar dapat lebih mudah mewujudkan impian bersekolah di luar negeri,” kata Aimee Sukesna, Marketing & Public Relations Manager, UniSadhuGuna International Education. Karena itu, orang tua sebagai pendukung utama dalam kesuksesan anak juga harus memiliki wawasan yang cukup tentang pendidikan di luar negeri. “Banyak orang tua yang merasa khawatir dengan era Masyarakat Ekonomi ASEAN yang semakin dekat dan ingin memastikan anak mereka mendapat pendidikan terbaik. Sayangnya mereka tidak memiliki informasi yang cukup, sehingga menganggap kuliah di luar negeri adalah mahal, merepotkan dan berisiko tinggi,” ungkap Aimee.

Berikut enam mitos tentang kuliah di luar negeri yang masih diyakini oleh para orang tua Indonesia:

1.    Kuliah di luar negeri pasti mahal.

Salah satu inovasi penting di industri pendidikan adalah International pathway program yang telah sukses diselenggarakan di banyak negara. Melalui pathway program, Anda tidak hanya dapat menghemat hingga 900 juta rupiah. Anak anda pun akan jauh lebih siap menempuh pendidikan di luar negeri, karena pathway program juga melengkapi mahasiswanya dengan berbagai program pemantapan. “Di tahun-tahun awal, banyak mahasiswa yang sulit beradaptasi saat kuliah di luar negeri. Pathway program menjamin mereka siap belajar dan langsung menyerap ilmu di sana,” kata Aimee. Program ini memungkinkan mahasiswa belajar selama satu atau dua tahun di dalam negeri. Satu sampai dua tahun berikutnya, ia dapat melanjutkan kuliah di universitas bergengsi di luar negeri. Dan yang terpenting semua mata pelajaran kuliah yang mereka ambil di Indonesia dapat diterima oleh universitas di luar negeri. Ini karena penyelenggara program pathway tersebut telah membuat perjanjian dengan kampus – kampus ternama di luar negeri.

2.    Saat anak saya sakit, administrasi dan biaya rumah sakit di luar negeri bisa merepotkan dan mahal.

“Banyak negara menyediakan fasilitas kesehatan yang baik dan mudah diakses mahasiswa asing. Di Australia, misalnya, mahasiswa asing wajib mempunyai asuransi kesehatan, disebut Overseas Students Health Cover (OSHC). Asuransi ini telah dibayarkan oleh mahasiswa di awal pengurusan aplikasi visa, sehingga ia dapat menggunakan fasilitas rumah sakit dengan mudah jika dibutuhkan,” kata Aimee. Karena itu, kenali berbagai opsi tentang asuransi di negara tujuan. Yang tak kalah penting adalah soal bank. Dalam kondisi darurat, anak Anda mungkin membutuhkan uang tunai. Cara terbaik adalah memiliki rekening Bank di domisili negara tersebut.

3.    Memantau perkembangan anak di luar negeri pasti sulit.

Meskipun Anda akan terpisah ribuan kilometer dengannya, teknologi akan mendekatkan dan meredam kekhawatiran Anda. Aplikasi video chat seperti Skype akan memungkinkan Anda melihat, berbicara langsung dan jauh lebih murah daripada telepon. Jadwalkan waktu untuk berkomunikasi via Skype, sehingga Anda dapat memantau perkembangan dan aktivitasnya.

4.    Anak saya harus sekolah di negara dengan tingkat kriminalitas paling rendah, agar ia dapat belajar dengan aman dan nyaman.

Tenang saja. Kebanyakan kampus di luar negeri memiliki sistem keamanan yang baik untuk melindungi peserta program. Bahkan pemerintah Australia mewajibkan pihak kampus untuk mengantarkan mahasiswanya pulang, jika mahasiswa tersebut tinggal sampai larut malam di area kampus dan membutuhkan bantuan untuk pulang. “Tetapi keamanan anak Anda bukan hanya tanggung jawab kampus saja. Orang tua dan anak juga memiliki peran penting untuk meminimalisasi potensi kejahatan,” kata Aimee. Orang tua, misalnya, harus rajin mencari informasi tentang keamanan di lingkungan sekitar kampus dan tempat tinggal anak dengan memantau website kampus atau koran lokal. Dan juga memilih tempat tinggal dengan lingkungan yang aman dan nyaman.

5.    Mengurus tempat tinggal anak saat kuliah di luar negeri membutuhkan waktu lama dan biaya besar

Memang tidak semua mahasiswa dapat tinggal di asrama internasional yang disediakan kampus. Tetapi jangan khawatir. Masih banyak opsi lain, seperti homestay (tinggal di rumah warga dengan asal negara yang sama), students lodge (akomodasi di luar kampus yang tersedia untuk mahasiswa internasional) atau apartemen khusus mahasiswa sekitar kampus. Proses aplikasi tinggal di asrama kampus maupun opsi akomodasi yang lain dibuat sangat mudah bagi para mahasiswa internasional. Bahkan sejak mengisi formulir aplikasi universitas, sudah tersedia opsi pilihan akomodasi sehingga Anda dapat merencanakan sejak awal. Karena itu, Aimee menyarankan agar pengurusan tempat tinggal dilakukan pada saat proses pengurusan di Indonesia. “Biasanya kami sarankan untuk 1 semester pertama agar tinggal di akomodasi yang disediakan oleh kampus atau homestay, lalu di semester kedua dapat mencari tempat tinggal sendiri di apartemen maupun rumah bersama teman,” ungkapnya. Lebih praktis lagi, Anda dapat memanfaatkan jasa konsultan yang dapat membantu keseluruhan proses aplikasi. “Di kampus kami, misalnya, mahasiswa tidak perlu mengkhawatirkan proses ini karena akan ditangani oleh departemen khusus,” ungkap Aimee.

6.    Proses pengajuan visa untuk sekolah di luar negeri sangat sulit.

“Jika semua persyaratan dilengkapi maka semestinya tidak ada masalah,” kata Aimee. Beberapa negara mempunyai proses pengurusan visa yang berbeda, dan yang harus disiapkan, antara lain surat dari kampus yang dituju bahwa anak telah diterima, bukti keuangan yang cukup, Kartu Keluarga, paspor dan dokumen pendukung lain. Dan jika Anda memilih pathway program, maka proses pengajuan visa akan jauh lebih mudah karena akan dibantu sepenuhnya oleh penyelenggara program. Praktis, kan?

Di Indonesia, salah satu kampus yang menyediakan pathway program adalah UniSadhuGuna International College (UIC). Selama lebih dari 20 tahun, UniSadhuGuna telah mengembangkan program ini dan bekerja sama dengan lebih dari 100 kampus bergengsi di mancanegara. “Pathway program di UIC, memungkinkan mahasiswa belajar satu atau dua tahun di Jakarta dan tahun berikutnya di kampus-kampus pilihan mereka di luar negeri, seperti Australia,Amerika, Inggris dan negara lainnya” kata Aimee. Dengan memilih dua tahun studi di Jakarta, mahasiswa telah menghemat 60% dari seluruh biaya studi. Ada penghematan sebesar 40% jika mahasiswa memilih satu tahun belajar di Jakarta.

Salah satu fasilitas unggulan UIC, mahasiswa tidak perlu lagi direpotkan dengan pengurusan visa, pendaftaran kampus hingga tempat tinggal. Tanpa biaya tambahan, UIC akan menangani semua keperluan mahasiswa hingga ia dapat belajar dengan nyaman di kampus tujuannya. Dengan dukungan staf dan dosen yang berpengalaman, para mahasiswa dapat fokus dengan pelajaran dan siap beradaptasi dengan dunia kampus. Bahkan mahasiswa UIC pun diajak studi tur ke universitas-universitas luar negeri tersebut ketika sedang belajar di UIC Jakarta. Hal ini untuk memperkenalkan mereka sehingga mengenal suasana di luar ketika transfer nantinya. Di UIC, mahasiswa dapat memilih program studi Graphic Design dan melanjutkan studi di kampus-kampus ternama seperti Curtin University, dan mengambil bukan hanya jurusan di bidang Graphic Design.

Di Queensland University of Technology misalnya, mahasiswa yang telah menyelesaikan Pathway Graphic Design di UIC,dapat memilih spesialisasi lain seperti Architecture, photography and illustration design, creative advertising and graphic design, 3d design, digital design atau fashion. Atau Northumbria University di United Kingdom, yang terkenal mempunyai fasilitas luar biasa untuk kampus designnya. Jika ingin ke Negara lainnya, UIC juga menyediakan pathway ke Negara Eropa yang terkenal dengan keunggulannya di bidang seni, seperti Parson Paris of School of art & design yang terletak di Paris. Mahasiswa juga dapat memilih program studi bisnis, antara lain international business, marketing, management, accounting,advertising & marketing dan lainnya. Mereka dapat memilih kampus-kampus ternama di Inggris,Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Singapura, Jepang,dan negara lain, seperti The London School of Economics and Political Science, University of Nottingham, University of Technology, Sydney, Westminster University, UK dan San Francisco State University, California. UIC mempunyai kurang lebih 100 universitas pilihan untuk mahasiswanya, selain negara barat UIC juga menjalin kerjasama dengan berbagai universitas di Asia seperti Kaplan Singapore, Xian Tijatong Liverpool di China, University of Nottingham Malaysia dan Asia Pacific University, Jepang.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:

Aimee Sukesna
Lembaga Pendidikan UniSadhuGuna
Sequis Center 2nd Floor
Jl. Jendral Sudirman Kav.52-53
Jakarta Selatan 12190
Ph : +62 21 252 4068
Fax : +62 21 252 1944
Email :ami.sukesna@unisadhuguna.org
Homepage : www.unisadhuguna.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat